Iklan

Turki Selamatkan Para Migran yang Dilecehkan Yunani

Konten [Tampil]
Migrants whose boat stalled at sea while crossing from Turkey to Greece swim toward the shore of the island of Lesbos, Greece, Sept. 20, 2015. (AP Photo

IdnMuslim.com - Menteri Dalam Negeri Süleyman Soylu minggu ini mengeluarkan pernyataan bahwa data signifikan
mengenai jumlah migrasi ilegal dari Turki ke Eropa menurun sepanjang tahun 2020.

Soylu mengatakan jumlah migran di jalur tersebut menurun dari sekitar 500.000 pada 2019 menjadi sekitar 114.000 tahun ini akibat dampak COVID-19.

Pada tanggal 18 Desember, Perserikatan Bangsa-bangsa merayakan hari Migran Internasional. Namun, kenyataanya, hari itu malah lebih tragis karena setiap tahunnya selalu ditandai dengan kematian ribuan migran termasuk lansia, anak-anak dan wanita. 

Kematian itu terjadi lantaran mereka berjuang menyebrang dari Turki menuju Eropa. Terutama dalam kurun waktu 10 tahun terakhir saat pecahnya perang Suriah.

Tak dapat dipungkiri, beberapa negara Eropa malah membela Teroris yang mengacau di negara mereka. Kondisi ini dilihat kelakuan Eropa menyiksa  para migran yang lari dari perang. Seolah mereka adalah teroris ketika tiba di perbatasan.

Meningkatnya isu politik anti-migran dan rasis di negara-negara Eropa pada tahun 2020 telah mendorong negara tersebut mengangkat isu migrasi sebagai upaya keamanan perbatasan dan menerapkan kebijakan yang mengabaikan hak asasi manusia dengan melakukan ancaman. 

Faktanya, Turki merupakan salah satu negara terdepan yang dapat melihat masalah tersebut dari sudut pandang keamanan, mengingat migrasi tidak resmi itu berasal dari negara-negara yang berbatasan dengan Turki. Negara ini bisa menjadi negara pertama yang menghadapi segala macam ancaman mulai dari terorisme hingga penyelundupan.

Namun, Turki tidak menangani masalah ini dengan menembaki kapal-kapal migran, apalagi sampai menyebabkan kematian, seperti yang sering dilakukan negara lain.

Turki, memegang motto "Biarkan manusia hidup, dan negara juga akan berkembang," tidak seperti ironi dan kontradiksi besar yang kini dihadapi Eropa yang masih kurang memahami antara hak asasi manusia, keamanan pribadi, dan kebebasan.

Kebijakan Badan Penjaga Perbatasan dan Pantai Eropa (Frontex), sebagai badan yang bertanggung jawab untuk mengamankan perbatasan Eropa, saat ini berupaya menyembunyikan kenyataan bahwa mereka belum berhasil.

Dalam artikel berjudul "Penolakan (Migran) ilegal di Laut Aegea: Bagaimana kepala Frontex Leggeri membodohi publik" yang diterbitkan pada 26 November di Der Spiegel, diklaim bahwa, Yunani mendorong kembali para migran itu ke laut lepas. Padahal, Yunani secara ilegal mendorong kembali para migran ke perairan Turki.

Awal pekan ini, Soylu di Twitter mendesak Uni Eropa untuk meminta pertanggungjawaban Yunani atas "pembunuhan" para pencari suaka. 

Soylu juga membagikan video yang menunjukkan para migran diselamatkan dan seorang migran kemudian menceritakan pengalamannya berhadapan dengan petugas Yunani. 

Dalam video tersebut, pria tersebut menggambarkan perlakuan buruk yang dia dan orang lain alami atas perlakuan petugas. Menurut pengakuan saksi itu, tiga dari lima migran kehilangan nyawa di laut ketika kapal mereka kempes.

Soylu juga membagikan pernyataan penjaga pantai Turki tentang insiden tersebut, yang mengatakan bahwa pada 19 Desember, tim dikirim ke daerah tersebut untuk menyelamatkan para migran yang dilaporkan terdampar di tiga kapal.

Penolakan ini dianggap bertentangan dengan perjanjian perlindungan pengungsi internasional, yang mengatakan orang tidak boleh diusir atau dikembalikan ke negara di mana kehidupan atau keselamatan mereka mungkin dalam bahaya karena ras, agama, kebangsaan atau keanggotaan dalam kelompok sosial atau politik.

Jadi, apa yang dilakukan Turki dalam menghadapi insiden ini? Turki tidak memandang migrasi ilegal ini hanya sebatas masalah keamanan seperti halnya Eropa. 

Ini menyelamatkan nyawa para migran yang coba ditenggelamkan Yunani sembari menjalankan program integrasi dan adaptasi sosial dalam masyarakat Turki. 

Investasi keuangan yang dilakukan Turki untuk lebih dari 3,5 juta pengungsi Suriah yang tinggal di negara itu, menurut angka tidak resmi, telah mencapai $ 40 miliar (TL 306 miliar).

Menurut data Direktorat Migrasi, Turki melaksanakan 26 kali pertemuan adaptasi di 25 provinsi yang jumlah WNA tinggi. Turki juga memberikan pelatihan kepada 9.500 warga asing dan lokal sekitar November 2018 hingga Februari 2020. 

Pada periode yang sama, 16 lokakarya juga dilaksanakan di 15 provinsi-Provinsi yang berlangsung di kantor mufti dan direktorat pendidikan provinsi yang mencapai 5.800 orang. 

Dalam dua tahun terakhir, 108 acara diselenggarakan tentang adaptasi sosial dengan partisipasi organisasi non-pemerintah (LSM), personel publik, penduduk setempat, pemimpin media opini dan orang asing di Turki.

Seperti yang terlihat, Turki berusaha menyelesaikan dan mengelola masalah migrasi gelap dengan mengedepankan perspektif kemanusiaan terlepas dari semua kesulitan dan ancaman keamanan.

Namun,  Turki tidak melihat adanya pendekatan yang sama yang dilakukan Eropa. Keputusan bantuan keuangan diambil Komisi Eropa minggu ini hanyalah kontribusi kecil untuk masalah dibandingkan dengan tindakan yang sudah diambil Turki.

Badan eksekutif UE mengatakan Rabu bahwa mereka memperpanjang dua program, satu yang memberikan bantuan tunai kepada para migran di Turki untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka dan yang lainnya menyediakan dana untuk membantu mendidik anak-anak. 

Program ini akan diperpanjang hingga awal 2022 dengan total biaya 485 juta euro ($ 590 juta).

Pendanaan senilai $ 6 miliar akan ditransfer dari UE ke Turki untuk digunakan bagi pengungsi sesuai dengan perjanjian Maret 2016.

Administrasi UE belum menyelesaikan transfer pembayaran ini dalam lima tahun terakhir, sementara di sisi lain melanjutkan kebijakan keamanan dan metode terornya di perbatasan Yunani. 

Pertanyaan yang perlu ditanyakan adalah: Apakah Eropa benar-benar ingin agar para migran tetap hidup?



Source : Daily Sabah

Subscribe Our Newsletter

Related Posts

Buka Komentar
Tutup Komentar

Posting Komentar

klan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel